Kembalinya saya ke blog ini

Saya membuat blog ini di India karena ketika saya magang di sana, saya nggak bisa keluar malam-malam karena situasi di sana tidak aman. Kembalinya saya ke Singapur, duhh sibuk banget, dan jujur saya merasa lebih mudah menulis dalam bahasa Inggris (biarpun dengan tata bahasa yang berantakan) daripada menulis dalam bahasa Indonesia. Soalnya sekarang buku-buku yang saya baca ya buku bahasa Inggris, kerja juga pakai bahasa Inggris, jadi agak susah menerjemahkan istilah-istilah tertentu ke bahasa Indonesia.

Walaupun demikian, saya masih ingin menulis dalam bahasa Indonesia karena sesuai judul blog saya, “menulis adalah suatu bentuk tanggung jawab”. Tuhan sudah memberi saya kesempatan untuk belajar dan bekerja di sini, dan memiliki akses ke sumber-sumber tertentu, terutama buku dan workshop yang tidak dapat diakses oleh kebanyakan orang. Impian saya adalah menjadikan blog ini sebagai salah satu wahana pendidikan. Saya mungkin bukanlah seorang penerjemah profesional, tata bahasa Indonesia pun sudah hancur (duh maap!), tetapi ada beberapa area yang saya harap akan memotivasi saya untuk menulis lebih sering di blog ini. Topik-topik ini agak luas, sampai moga-moga kelak saya menemukan hal apa yang saya mau kupas lebih dalam lagi.

  • Pendidikan untuk anak kebutuhan khusus

Mengapa? Karena selama saya kuliah, saya cuma familiar dengan Applied Behavioral Analysis (ABA), padahal ada banyak metode lain yang mungkin lebih baik.

  • Iman Katolik, pernikahan, dan KB (supra)alamiah

Mengapa? Karena saya cuma mendengar betapa buruknya dampak KB buatan (pil lah, kondom lah) dan tidak etisnya penggunaan KB buatan setelah saya kuliah di Singapur, sementara di Indo saya melihat bahwa penggunaan pil KB itu ‘normal’ banget.

  • Mitos vs. fakta di media (duh sering banget kan lihat newsfeed facebook yang nggak jelas kebenarannya)

Mengapa? Hmm…Sudah tersirat kan betapa capeknya saya baca hoax?

  • Daftar buku/ website yang terpercaya mengenai berbagai topik

Terutama tentang bioethics. Saya punya teman yang kehilangan bayinya karena ecclampsia. Dokter yang menanganinya merekomendasikan aborsi padahal ada beberapa solusi lain.

  • dan tentu saja hal-hal fun seperti travel =P

Semoga resolusi ini bisa tercapai. Hahaha. Amiiiin!!

 

 

 

Cakrawala

Setiap kali saya pulang ke Indonesia, saya selalu senyum-senyum melihat matahari terbit. Kenapa? Karena di Singapura ini di mana-mana rumah susun (HDB), apartemen, dan gedung pencakar langit. Walaupun saya bangun pagi, jarang sekali saya bisa melihat langit yang ‘bersih’ dengan matahari terbit dan awan tanpa gedung-gedung tinggi.

Senin lalu kantor saya pindah ke Expo, yang notabene hanya 5 menit dari Changi Airport kalau naik MRT. Ini pertama kalinya saya kantoran di ujung timur Singapura. Di tengah-tengah komplain sana-sini karena stall makanan yang buka baru 2 stall, ruang kerja kami belum bisa dikunci, dan lain-lain, saya sejujurnya menikmati pemandangan di kantor baru ini. Jaraknya yang dekat dengan bandara menyebabkan dibatasinya ketinggian gedung-gedung di sekitar Expo. Gedung saya sendiri maksimal tujuh lantai. Setiap hari saya bisa melihat langit lepas dan pesawat mendarat dan lepas landas setiap beberapa menit. Hahaha.

Setiap orang melihat langit biru setiap hari. Siapa sangka pengalaman melihat cakrawala yang luas dengan warna yang berubah seiring matahari terbit dan terbenam, membuat saya tersenyum lebih banyak dan mensyukuri kantor baru ini. Hahaha.

Kartu Natal “klasik”

Kebanyakan orang familiar dengan kartu “Season’s Greetings”. Ooops, sebenarnya zaman sekarang siapa sih yang masih menulis kartu Natal?

Saya masih menulis kartu Natal lho. Biarpun sesudah sekian tahun kartu Natal nya tetap dibuang (apalagi saya pindah rumah berkali-kali), saya tetap senang menulis kartu Natal dan menerima kartu Natal =) Sejak saya bergabung dengan Legio Maria di NUS, saya juga lebih selektif terhadap pilihan kartu Natal. Saya hanya membeli kartu Natal yang “klasik”, yang memuat gambar Keluarga Kudus: Bunda Maria, Yesus, dan Santo Yosef.

Mengapa?

Karena Natal tidak hanya sebuah liburan atau “musim” (diterjemahkan secara literal dari “Season’s Greetings”). Natal pada intinya adalah perayaan datangnya Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat (bukan hanya sekedar seorang nabi). Kedatangannya sudah diprediksi oleh banyak nabi jauh sebelum kelahirannya. Jadi, saya berharap orang yang menerima kartu Natal dari saya ‘ngeh’ bahwa pusat perayaan Natal ini adalah Tuhan Yesus, bukan sekedar tukar kado, bukan sekedar dekorasi, dan bukan sekedar Santa Klaus.

Bagi anda yang sudah lama tidak menulis kartu Natal, coba deh =) Ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan perhatian khusus kepada teman yang sudah lama tidak kita hubungi. Menulis itu memang memakan waktu karena kita harus berpikir secara khusus, hal apa yang perlu kita ucapkan untuk teman ini satu per satu (tidak hanya sekedar copy paste).

Sebelas hari menjelang Natal. =) Sudah siap?

Menunggu dengan gembira

Saya rasa banyak orang yang sudah tidak terlalu peduli dengan makna Adven. Mall-mall memutar lagu Natal sejak awal November dan paling-paling kita cuma mendengar lagu Adven seminggu sekali

Walaupun susah dilakukan, Adven merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki diri masing-masing. Untuk menambah persiapan Natal kali ini, saya mencoba membuat dekorasi Adven (yang sayangnya gagal, duh!). Maunya sih membuat 25 kantong kertas sebagai Adven kalender seperti ini. Namun, saya terlalu sibuk (atau terlalu banyak membuang waktu melakukan hal-hal lain) sehingga akhirnya saya cuma membuat tujuh kantong dan tiap kantong berisi beberapa kertas kecil berisi resolusi. Harusnya tiap kantong berisi 1 hal saja.

WP_20141208_001

Dekorasi ini benar-benar sederhana. Namun, saya cukup senang memandangi kantong-kantong ini. Apalagi kalau saya buka jendela malam-malam, kantong-kantong ini bergoyang-goyang tertiup angin sampai saya takut jepitannya lepas. Hehehe. Dekorasi ini juga membantu saya untuk lebih optimis dan menunggu Natal dengan lebih gembira karena setiap hari saya ditantang untuk melakukan hal baik yang biasanya tidak saya lakukan atau belum saya lakukan dengan konsisten. Atau mungkin hal tersebut adalah hal yang spesifik untuk masa Natal, tetapi cukup memerlukan effort lebih (misalnya menulis kartu Natal).

Sudahkah kamu memikirkan resolusi Adven? =)

The Sisterhood of the traveling pants: Vol. 4 – 50 Fakta tentang Saya

Topik kali ini adalah idenya Nyz. Gila 50 kok banyak banget ya? Rencana kami adalah sesudah menulis 50 fakta tentang diri sendiri, kami bergantian menulis 50 fakta tentang Nyz, Nic, dan Pril. Hmm, gile berasa ujian.

Oke langsung saja ya, 50 fakta tentang saya:

1) Nama saya Ferninda. Nama ini tidak ada maknanya. Mama saya memberi nama saya Ferninda hanya supaya nomor presensi saya di tengah karena diawali huruf ‘f’ (uhum, menurut guru bahasa Indonesia saya pas SMP, nomor ‘presensi’ bukan nomor ‘absensi’). Anyway, mama saya bilang, kalau saya dikasih nama Agusta atau Agustina (karena lahir di bulan Agustus), kasihan nanti dipanggil bu guru duluan. Tapi kalau saya diberi nama yang diawali huruf ‘y’, kasian nunggunya kelamaan. Kemudian, mama saya juga mengecek yellow page dan ternyata tidak ada tuh nama ‘Ferninda’. Jadilah…..Ferninda =) Setiap kali kenalan dengan teman baru saya harus mengeja nama saya supaya tidak salah tulis.

2) Dari nama yang unik dan bagus ini, muncul nama-nama panggilan aneh-aneh. Pas SMA entah kenapa dipanggil ‘Ida’ (duhhhhhh). Di Singapur, orang-orang mulai manggil “Fern” (dibaca seperti ‘fern’ yang berarti suplir). Pacar mencoba meniru mama saya memanggil saya “Nda”, tapi bunyinya kok tetep beda.. Aneh.. Tapi bagus sih, jadi tahu kalau yang manggil “Nda” kayak gitu pasti dia @.@

3) Ketika saya masih kecil, saya bercita-cita menjadi guru

4) Pertama kali saya menulis blog adalah pas SMP, pas masih zaman friendster. Nama blog saya dulu ferninda-kepang-2 karena dari SMP sampai SMA tiap hari dikepang dua.

5). Nah, ngomong-ngomong kepang dua, kepala saya ini agak peyang. Jadi kalau belah tengah enggak pernah rata! Nah, trik belah tengah dengan cepat adalah, entah saya belajar dari mana, saya belah rambut saya zig-zag. Jadi cepat dan lumayan rata. Lalu karena rumah saya agak jauh dari sekolah, saya selalu ngepang di mobil.

6) Bujubuneng masih 45 poin lagi ya?

Seumur-umur rumah saya selalu jauh dari sekolah, anehnya, pas kuliah justru ‘rumah’ alias asrama saya dekat sekali dengan kampus. Tinggal ngesot. 5-10 menit saja sampai. Pada suatu hari, saya bangun kesiangan (*warning: agak menjijikkan nih ceritanya). Harusnya kelas jam 8 pagi menulis bahasa Thai, tapi saya bangun telat. Lompat dari ranjang, cuci muka, ganti baju, lari ke kelas, lalu pulang kelas baru sikat gigi dan mandi >.<

7) Suka warna kuning, sepertinya saya ikut-ikutan mama

8) Dulu pas SD, SMP, SMA, bekal makanan saya kebanyakan nasi + telur dadar. Tidak bosan-bosan.

9) Sebenarnya saya sudah mau coba beasiswa ke Singapur dari pas SMP kelas 3, tapi tidak diizinkan oleh kedua orang tua saya karena menurut mereka saya masih labil dan takutnya biarpun ada beasiswa sampai SMA, kelanjutannya untuk kuliah kan belum tentu.

Dulu saya agak marah dan kecewa karena tidak boleh coba tes beasiswanya, tapi sekarang saya bersyukur, karena gara-gara baru ke Singapur pas kuliah, saya jadi hemat umur. Betul juga kata mama saya, dulu saya masih labil. SMA masih nangis-nangis di pelukan mama saya.

10) Saya punya 2 adik. Satu namanya Ferditius, dua tahun lebih muda daripada saya. Satu lagi mama saya keguguran ketika usia kandungannya kalau tidak salah  3 bulan. Kegugurannya ketika saya kelas 6 SD.

11) Saya suka nyanyi di kamar mandi, terutama soundtrack Anastasia. Namun, sejak tinggal di asrama dan sekarang sewa rumah rame-rame, nggak ada lagi tuh nyanyi di kamar mandi. Malu!

12) Sssttt. Yang ini agak lucu.

Pertama jadian kelas 5 SD dan bahkan nggak sadar bahwa hal ini disebut ‘jadian’. HAHAHAHA. Dan lucunya teman SMA saya kemudian jadian dengan si cowok ini. Awkward banget pas ketemu lagi.

13) Pertama kali menulis diary pas kelas 4 SD. Kebiasaan ini masih dimiliki sampai kuliah. Sejak saya rajin blogging, saya sudah tidak menulis diary lagi 😦

14) Saya ini agak nekat. Mei 2010 saya liburan ke Thailand pas Thailand lagi rusuh. Juni 2011 saya magang di India, dan menempuh perjalanan 14 jam naik bus dari New Delhi ke Manali sendiri, dan trekking sendiri dengan guide!! Gileeee.. Nggak lagi dah kayak begitu. Untung balik masih utuh… >.<

15) Pengen nulis novel, ada nulis novel setengah jadi, tapi nggak selesai-selesai hahaha

16) nilai ujian paling jelek pas ambil  mata kuliah Government and Politics of Singapore. Nangis pas liat exam resultnya karena dapat C+. Esainya dapat A tapi tau-tau hasil ujiannya C+. Bener-bener bikin IP anjlok.

17) Makanan favorit: bakwan jagung (si nyz suruh aku nulis ini)

18) Ahhhh..ini nih favoritku. Sejarah kekerasan. Waktu saya masih Playgroup, saya bikin satu cowok mimisan, namanya Andy. Kan dulu kita harus bawa cangkir dan sikat gigi ke sekolah. Saya ngotot itu punya saya, dia ngotot itu punya dia. Ya udah saya gebuk aja idungnya pake cangkir.

 

Eh mimisan…

 

dan ternyata itu cangkir dia =.=

19) Kelas 3 SD, bikin cowok nangis gara-gara saya pukul kepalanya pakai kaleng pensil warna. Habisnya dia mewarnai gambarnya ikut-ikutan saya. Aduhhhh

20) Kelas 4-5 SD, ganti penggaris dua minggu sekali. Patah karena dipakai mukul cowok-cowok bandel di kelas. Tapi paling parah pas mukul kepala Bernard sampai clipboard retak.

21) Sekarang saya lemah lembut kok (hoeeeeeeeeeeekkkkkkkk). Oh btw, ketawa saya sangat keras. Ngomong biasa pun sangat keras. Benar-benar berisik

22) Entah mengapa belakangan ini tiap Rabu malam saya selalu mimpi aneh. Bangun-bangun capek banget karena mimpinya dari si A dibunuh berdarah-darah, si B meninggal, dan lain-lain. Hhhh.

23) Sekali saya mimpi teman saya melamar pacarnya. (Saya kenal dua-duanya). Gila sampai ada tanggal kondangannya juga, 28 Oktober. Sejak itu saya selalu meledek teman saya, ayo mana undangannya, 28 Oktober kan?? =P

24) Nah 24..Taun ini saya umur 24…ckckckckckck..masih muda kan?

25) ahhh. World Cup! Saya suka nonton sepak bola sejak kelas 5 SD. dulu sukanya MU, entah mengapa. Sejak itu saya tidak pernah absen nonton Euro dan World Cup ^^ World Cup terakhir yang saya nonton, saya nonton pakai saluran TV Indonesia melalui mivo tv. Soalnya di Singapur tidak ditayangkan di saluran biasa, kecuali kalau kita berlangganan TV kabel.

26) Saya ini jarang nonton bioskop. Kira-kira satu tahun cuma nonton 4-5 kali.

27) Film bioskop pertama yang saya nonton adalah ATM, film Thailand. Kita ngakak kayak orang gila. Terus (ssttt yang ini jangan bilang-bilang orang lain ya), kadang kita becandaannya sok niup-niup kiss terus ditangkep gitu kayak di film ATM. HAHAHAHAHA

28) Sekarang saya lagi kursus bahasa Spanyol. Me illamo Ferninda ^^

29) Film Thailand pertama yang saya tonton adalah Crazy little thing Called Love =)

30) Perjalanan ‘bersejarah’ : naik kereta dari Bangkok ke Penang dengan Nyz, Nic, dan Pril. Lalu di Penang kami nonton Harry Potter, midnight show.. DANNNNNNNNNNNNNNNNNNNN….tidak ada taxi sama sekali untuk pulang ke hotel. Untungnya ada orang baik, istrinya orang Indonesia, mereka mengantar kami ke hotel.

April: excuse me, do you know where we can get taxi?

Man: (melihat jam tangan dia) it’s 2 am you know?

April: Ya we know @.@

31) Pertama kali bawa pacar ke Indonesia bulan Mei 2012. Setelah pacar balik lagi ke Singapur, popo (nenek) saya bertanya:

“Pacar kamu orang India ya?”

>.< Aduhhh jauh banget. Anyway, pacar saya orang Singapur keturunan Chinese. Lebih Chinese daripada saya karena saya 75% Chinese. Tapi kulitnya lebih gelap jadi popo saya kira orang India.

32) Satu hal yang saya kagumi dari papa saya adalah Optimis!

Contoh:

Saya: (nangis-nangis di telepon) huuuu..susah nyari kerja…huuuu..susah nyari sewa rumah

Papa: pulang aja.. ngapain kalau di sana susah ya pulang aja..

Contoh2:

Papa: Oh pacar kamu kan suka biologi, riset di Indo aja kan binatang banyak.

Saya: Mana bisa, dia kan ga bisa bahasa Indo

Papa: itu kan ada UPH, deket rumah

Saya: UPH biologinya biomolecular, ga ada animal behavior

Papa: Ya gapapa makanya ngajar di sini bikin aja departemen animal behavior

33) Kenangan masa asrama yang cukup menarik. Karena kamar mandi kami adalah kamar mandi umum, di luar kamar, jadi kami bisa mandi sambil ngobrol dari bilik yang bersebelahan satu sama lain. Jadi dulu saya dan roommate saya mandi di saat bersamaan, ngobrol bahasa Indonesia ngomongin gebetan dengan suara lantang sambil mandi, karena toh orang lain pada nggak ngerti bahasa Indonesia

34) Haduh apa lagi…

Saya suka tarian tradisional 🙂 Nari dari TK, lalu SD berhenti. Pindah sekolah kelas 4 SD ke Tarakanita Gading Serpong ketemu Vivi yang suka nari juga. Jadilah kelas 5 dan 6 SD juga ekskul nari. Setelah itu tidak pernah berhenti dari SMP ke SMA nari. kuliah pun nari 🙂

35) Pernah coba tari kontemporer juga. Sekali saya bergabung dengan NUS Dance Ensemble, tapi saya payah banget. Trainingnya kan gila-gilaan tuh. Tiap sabtu 3 jam. 1 jam pertama body conditioning, merenggangkan badan sana-sini, push-up, sit-up. Sekali saya diteriakin pelatihnya, “Kamu push-up yang benar dong, jangan kayak anjing laut.” hahahaha. Terus 1 jam kedua kan cross-floor. Cross-floor itu dari sebelah kiri studio nyebrang ke sebelah kanan dengan langkah-langkah dasar (misalnya sambil chaîné, atau sambil pirouette). Kepala saya pasti sempoyongan sesudah chaîné sampai saya harus pegangan ke tembok karena saya belum bisa melakukannya dengan benar. Biarpun dibilang push-up kayak anjing laut, saya tetap salut dengan pelatih saya karena dia tidak menyalahkan saya karena saya tidak punya basic ballet. Dia tahu bahwa saya bisa lebih berusaha, tetapi ya sayanya yang kurang disiplin.

36) Tahun terakhir universitas, saya bergabung Mountaineering. Nah, ini mirip Dance Ensemble, tapi orang-orangnya lebih ramah. Hahahaha. Dancer juga ramah, tapi kalau nari 1,2,3,4,5,6,7,8 nggak bisa-bisa, kamu nggak bakal ditungguin. You just need to get the steps! Tapi kalau lari, biarpun saya sampainya kedua dari terakhir, saya ditungguin oleh orang-orang yang jauh lebih fit dari saya. Benar-benar satu tahun yang menyenangkan karena saya jadi ambil rock-climbing level 1 gara-gara ekskul Mountaineering. Dan biarpun saya mungkin udah nggak bisa lari 5km seperti dulu di Mountaineering, saya jadi lebih suka lari 🙂

37) Oke…13 lagi..

Saya baru baca Pride dan Prejudice-nya Jane Austen tahun lalu. Menarik 🙂 Saya suka pilihan kata Jane Austen dan pas sampai di tengah buku saya penasaran banget sampai akhirnya saya lompat ke halaman terakhir

38) Saya juga suka blogwalking. Beberapa tahun lalu, teman saya (Dominic) memasang link blog Haley di facebook-nya. Haley punya 3 anak dan sejak baca blog dia, saya jadi lebih memahami ajaran Gereja tentang keluarga dan tentang pernikahan 🙂 Selama saya di Indonesia, saya selalu berpikir bahwa “Gereja tidak membolehkan kita memakai KB buatan, TAPI……..kebanyakan orang toh pakai KB” Tapi sejak saya kenal blog ini dan belajar lebih dalam tentang ajaran gereja tentang keterbukaan terhadap kehidupan, wowww…ternyata banyak juga orang yang benar-benar memilih untuk tidak memakai KB buatan. dan mereka tetap bahagia 🙂 Susah, tapi enggak mustahil dan sudah terbukti juga bahwa ini tidak mustahil. Orang-orang ini juga memilih untuk terbuka terhadap kehidupan dan memakai cara alami untuk menunda kehamilan bukan karena ‘the Pope said so’, tapi karena mereka tahu makna sesungguhnya dari sebuah pernikahan.

39) sebelas lagi!

Sempat ada suatu periode waktu tertentu, saya dan teman-teman saya GILA Axioo. Itu lho blog wedding photography dan videography. Cantik!

Namun, seiring berjalannya waktu, saya makin merasa bahwa hal seperti ini termasuk dalam daftar ‘mewah’ dan sebenarnya bukan sesuatu yang saya rasa penting bagi saya dan pacar.

40) Saya cewek, tapi malas belanja. Sebagian dress saya itu saya beli online di ASOS. Free shipping ke Asia dan saya rasa kualitasnya cukup bagus. Biasa saya juga nunggu diskon jadi jatuhnya nggak terlalu mahal.

41) Tipe Kulit saya kering (duh…penting nggak sih)

42) Saya dulu juga suka nulis cerpen. Sekali cerpen saya dimuat di KaWanku, judulnya Bunga dan Daun. Ceritanya si cewek dan cowok ini temen masa TK. Ya gitu deh, jatuh cinta di bangku SMA padahal si cewek tadinya sebel banget sama si cowok.

Klise ya? hahaha

43) Ada dua titik balik dalam kehidupan spiritual saya. Pertama adalah retret muda-mudi di Lembah Karmel pas SMA. Beda dengan grup-grup karismatik lain, menurut saya KTM benar-benar membantu saya untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan karena tidak hanya Praise and Worship, teman-teman KTM juga suka rosario dan merekomendasikan misa harian dan pengakuan dosa dengan lebih sering. Titik balik kedua adalah ketika saya magang di India. Saat itu saya sadar bahwa tinggal di negara kecil seperti di Singapur di mana ke gereja mana pun dekat adalah sebuah anugerah. Saya jadi kangen misa harian di sana. Lalu karena internet saya sangat lambat, saya jadi punya waktu untuk berdoa dan membaca buku biografi St. Therese of Lisieux dan True Devotion to Mary yang ditulis oleh St Louis de Montfort.

Tentu saja ketika saya kembali ke Singapur, masih sulit untuk mempertahankan kebiasaan berdoa dan membaca buku rohani. Namun sejak itu, saya jadi lebih bertekad untuk lebih disiplin dalam menjalin hubungan dengan Tuhan.

44) Ngomong-ngomong tentang hubungan dengan Tuhan, saya juga sudah mengalami bahwa ketika orang bilang, “Carilah dulu Kerajaan Allah” itu bukan sekedar motto. Ketaatan terhadap kata-kata ini bisa mengubah kehidupan kita karena Tuhan memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menunjukkan kehendak-Nya.

Contoh:

Desember 2011

Pembimbing rohani pacar saya mengusulkan ke dia untuk misa harian di Church of Blessed Sacrament selama Adven, jam 8.30 pagi. (Kalau misa di paroki dia kepagian, kalau misa sore nggak keburu). Saya juga pas masa-masa itu misa jam 8.30 pagi karena saya suka bangun kesiangan. Sebenarnya pacar saya males misa jam 8.30, karena dia harus berangkat dari rumahnya jam 7.30, kepagian buat dia! Tapi gara-gara ‘tanpa sengaja’ ketemu pas misa pagi ini, kita jadi mulai notice each other? =P

45) Waktu saya masih kecil, saya suka marah-marah dengan banting-banting kaki, mulut manyun 5cm, dan banting pintu. Pas saya mulai agak dewasa, saya ganti jadi banting telepon ke ranjang jadi ga kedengaran orang tua saya

46) Lima lagi!!

Hhhh..

Oh, Salah satu anjing saya namanya Moti: Montok Putih. Tapi warnanya banyakan coklatnya.

47) Saya suka banget kentang goreng. Haduhhhhhhhh ga sehat!

48) Saya kenal Nic dari kelas 4 SD, ceritanya nanti aja ya pas bagian 50 fakta tentang Nic.

49) Jadi dulu, Nic, Nyz, saya tuh saingan di kelas. Hahahaha. Nilai rapor mepet-mepet, ranking saingan (nggak pernah sekelas sama April pas SD, tp dia juga ranking atas) Benar kata orang, temenan sama tukang bunga ya wangi bunga. Soalnya si Nic, Pril, dan Nyz *dulu* suka belajar (sekarang juga! Apalagi si Nyz). Dan biarpun ini bukan hal utama yang bikin kami nyambung, menurut saya ‘suka belajar’ (minimal pas masih kecil…) salah satu kebiasaan bagus yang mempengaruhi pilihan teman yang bagus. Tapi bukannya yang ‘gila ranking dan mau nyikut orang lain’ ya…

50) last but not least!!!!!!!!!!!!

gigi depan saya retak jadi nggak terlalu lurus..Gara-gara pas kelas 5 SD, saya main pesawat kertas dengan adik saya TERCINTA, lalu dia terlalu nafsu sampai jedotin kepala saya ke meja. Eh keluar putih-putih, sedikit bagian dari gigi saya hancur.

That’s all!!!!!!!!!!!

ARRRRRRRRRRRRRRGHHHHHHHHHHHHHHH PANJANG BANGET!!!!

 

 

The Sisterhood of the traveling pants: vol. 3 Estafet Puisi

Halooo…bacanya mulai dari punyanya April, terus Nic, nah aku cuma ngelanjutin bait ke-3 dan ke-4. hehehe

Aku tau mengapa langit malam sering menangis
Karena ia iri pada langit biru
Yang selalu bisa memeluk matahari
Yang mendekap erat, memberi hangat 

Aku tau mengapa angin meniup jatuh dedaunan
Ia iri pada pohon rindang itu
Kokohnya memberi perlindungan
Andai ia bisa sekejap bersandar di bawahnya

Tak apa, aku cukup ditemani gema

tak apa, aku cukup merengkuh hangat pasir yang terinjak

tak apa, aku cukup bersandar pada tanah yang telanjang

Aku tau, aku paham, aku terima sebagai fakta

bahwa aku hanya bintang yang dilupakan kala siang

yang kalah terang dengan gemerlap menara kokoh di kala malam

Aku tau, aku paham, aku terima sebagai fakta

bahwa rintihanku hanya mampu ditemani pantulannya di gua

bahwa jatuhku tiada yang mampu menyangga
 
Silakan baca lanjutannya di Dennyz ya!! 🙂
 
Gambar

the sisterhood of the traveling pants vol.2 : resolusi tahun baru yang paling berhasil tercapai sejauh ini

Hai!

Maap baru nulis lagi.

Sebulan lagi udah ganti tahun!! Aku ada 10 poin resolusi, dan dari sepuluh ini, resolusi paling berhasil adalah………..

kayaknya poin 7:

I promise to avoid idleness and use the time to pay more attention to people around me (family, friends, housemates, colleagues) and make home/ working environment more pleasing to others.

Rumahku masih berantakan sih, hahaha, tapi tahun ini aku lebih komit untuk ketemu temen secara teratur (terutama teman-teman lama), cuma buat saling kasih dukungan ke temanku atau lari bareng 🙂 Terus karena sejak pertengahan tahun aku terlibat di Girls’ Club (kegiatan anak SD setiap Sabtu: masak-masak, arts and craft, katekisme, dan doa), jadi udah nggak ada lagi tuh guling2an di kamar seharian. Hahaha

I promise to arrive at Mass at least 5 minutes early and write insight of my daily prayer in my journal.

Poin yang ini kadang sukses kadang ndak 😦 50-50 kayaknya..awalnya sempat parah pas awal tahun, terus makin ke akhir tahun lebih ke tergantung energi dan kesibukan juga. 😦 Tapi nggak separah dulu kok, cuma bisa diperbaiki jauhhhhhhhhhhh lebih baik.

I promise to only allow myself eat junk food once a month and exercise weekly.

Tetottttttttttttt.. kayaknya aku makan Macdonalds dan sebangsanya sebulan dua kali. Olah raga nggak nyampe tiap minggu sih, tapi sebulan sekali ada lah (ini udah kemajuan!!!)

Hahahaha.

Haduhhh ini kok kayaknya resolusi gagal semua. Besok mulai lagi dari nol. =) semangat!!!!

Silakan baca post Nyz, Nic, April ya!! 🙂

Vol.3 : Natal paling berkesan? 🙂

Image

Surat untuk Dokter – Vol. 1 – Pembunuhan massal

Hai, mungkin judul post ini agak hiperbol. Namun, pembunuhan massal terjadi di mana-mana, dan sedihnya, oleh dokter. Yup, harus diakui, banyak rekomendasi untuk membunuh datang dari dokter. Tulisan ini saya buat karena saya harap, teman-teman saya yang sudah menjadi dokter atau akan menjadi dokter, tidak akan pernah membunuh orang lain 🙂

Aborsi.

Saya tidak tahu yang mana gosip, yang mana fakta, tetapi sering saya dengar bahwa ilmu kedokteran menekankan bahwa pada situasi di mana jiwa ibu terancam, bayi ‘sebaiknya’ digugurkan. Dikeluarin. Atau dikuret. Trend kedua adalah, kalau bayi akan lahir dengan suatu cacat, Down Syndrome lah, kebutaan, dan sebagainya, keluarin!! Kuret!

Saya harap ini gosip. Saya harap dokter masih merupakan profesi yang berkewajiban menyelamatkan nyawa orang lain, bukan menjadi hakim “Nyawa siapa yang harus saya selamatkan?” Tidak ada yang berhak memilih nyawa siapa yang harus diselamatkan (termasuk si ibu).

Aborsi, adalah tindakan yang salah ‘dari sononya’ (maap, nggak bisa menerjemahkan istilah ‘something that is inherently evil’).

Sebelum saya diamuk oleh teman-teman dokter, saya mau klarifikasi dulu nih. Ada perbedaan antara aborsi dan pengobatan atau prosedur yang efek sampingnya adalah dialaminya keguguran. Contoh gampangnya, semua orang pernah pilek dong? Makan obat pilek efek sampingnya adalah…ngantuk!! Tapi bukan berarti kita sengaja makan obat yang bikin kita ngantuk.

Prosedur atau pengobatan yang efek sampingnya adalah keguguran, tidak salah secara moral, tetapi tindakan yang dengan sengaja membunuh janin adalah tindakan yang salah secara moral. Saya nggak ngomong agama lho, tapi ini soal dua nyawa yang setara. Sama halnya saya tidak bisa menghakimi bahwa nyawa anak Down Syndrome nilainya lebih rendah daripada nyawa atlet. Atau nyawa ibu saya lebih berharga daripada nyawa nenek saya.

Sedihnya, sepertinya rekomendasi ‘menggugurkan’ ini semakin dianggap enteng oleh para dokter. (Saya harap saya salah).

Daripada ngomong, “Ibu akan menghadapi resiko a b c, tetapi dengan pengobatan a b c, resiko ini tetap besar. Saya akan coba mencari tahu untuk ibu hal-hal apa pun yang bisa mengurangi resiko ini,” dokter bilang, “demi keselamatan ibu, sebaiknya janin dikeluarkan. Karena kalau lahir pun, anaknya belum tentu sehat.” Daripada ngomong, “anak ibu akan mengalami down syndrome, tetapi dengan terapi sejak kecil, anak dengan down syndrome bisa diajari self-help skills dan menjadi independent juga,” dokter bilang, “anak ibu akan down syndrome, sebaiknya digugurkan.” Trend ini bukan hanya di kalangan dokter saja, tetapi di kalangan orang-orang awam, termasuk generasi kita. Generasi yang mengalami betapa majunya teknologi. Generasi yang nggak hanya belajar ilmu pasti, tetapi juga filsafat dan tahu bahwa setiap kehidupan itu berharga. Generasi yang belajar psikologi!! Ironis!

Bayangkan bahwa kita berada di posisi si ibu hamil. Selain rekomendasi dokter, ibu hamil juga mendapat ‘tekanan’ (atau dukungan) dari berbagai pihak, suami, orang tua, mertua, tergantung orang-orang sadar juga nggak tindakan apa yang salah dan benar secara moral). Masalahnya sekarang, biarpun suami dan istri sama-sama mau mempertahankan janin, pesan yang selalu diberikan dokter adalah “sebaiknya digugurkan.” Seseorang yang dipandang lebih tahu, lebih pintar, merekomendasikan pembunuhan. Sesuatu yang salah, sekarang sudah dianggap normal, wajar.

ps. jika ada yang mau diskusi lebih lanjut, mari kirim-kiriman email 🙂

Image

the sisterhood of the traveling pants vol.1 : 10 harapan yang moga-moga bisa saya capai sebelum umur 30

Selamat datang di seri “the sisterhood of the traveling pants”. Tiap minggu, aku, Nic, Nyz, dan Pril bakal nge-post dengan judul yang sama.

Topik pertama kita: 10 things I hope to achieve by age of 30!!

Sekedar info, kami berempat sekarang berada di empat negara yang berbeda. Makanya aku tulis judulnya “the sisterhood of the traveling pants” =P Aku di Singapur, Nic di Guang Zhou (Cina), Nyz di Nottingham (UK), dan Pril di Jakarta. Kita berempat temenan dari SD (nb. sekarang kita udah umur 23, kecuali dennyz yang satu tahun lebih tua hehehe)

10 things I hope to achieve by age of 30:

1. berkeluarga 🙂 ya maunya sih kalo udah umur 30 udah ada minimal 2 anak gitu =P

2. S2. Sekarang masih bingung sih, masih mau ambil psikologi klinis atau lebih ke Early Childhood education

3. Udah bisa baca artikel bahasa Spanyol. (November aku mulai kelas bahasa Spanyol!)

4. Lebih rapi >.< ga terlalu berantakan kayak sekarang

5. Lebih dewasa. Struggle yang paling sulit buatku adalah kalo ada perubahan rencana. Misal, janjian ketemuan hari ini terus ternyata ga bisa. Padahal kan ke depannya lebih banyak hal yang ga bisa diprediksi

6. Udah bisa masak. Moga-moga prinsip mamaku “Kalo kepepet pasti bisa” benar-benar terbukti ya.

7. Udah mulai merencanakan gimana bisa bikin TK sendiri 🙂

8. Hmm, pengen ke Roma!

9. Masih nge-blog 🙂 dan moga-moga blogku bisa lebih menginspirasi banyak orang

10. Bisa bawa mama ke Lourdes ^^

Sampai ketemu minggu depan!

Topik minggu depan: resolusi tahun baru yang paling berhasil dicapai sejauh ini?

Image

Mengapa kaum muda tidak boleh menutup telinga terhadap ajaran Gereja tentang kontrasepsi?

Artikel ini akan dimuat di majalah paroki penulis untuk edisi Agustus-September.

***

“Pertumbuhan penduduk tidak dapat diimbangi oleh ketersediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Jadi, dua saja cukup!”

Image

Kata Siapa???

Kira-kira seperti itulah iklan di sebuah radio remaja yang saya dengar tahun lalu. Apa yang salah dari iklan ini?

Keluarga Berencana (KB) ala Gereja Katolik

KB yang sering kita dengar adalah KB buatan seperti pil KB, spiral, dan kondom. Gereja kita juga menekankan pentingnya merencanakan keluarga, tetapi tanpa menggunakan alat kontrasepsi, istilahnya KB alami (Natural Family Planning). Tidak seperti KB buatan, KB alami berfungsi untuk menunda kehamilan (baca: menunda, bukan mencegah). KB alami tidak menghilangkan kekudusan hubungan fisikal suami-istri yang merupakan pemberian diri masing-masing secara utuh tanpa halangan apa pun (misalnya, kondom). Kesuburan laki-laki ataupun perempuan adalah salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari setiap individual. Dengan menggunakan KB buatan, kita seakan berkata, “Saya menerima diri kamu apa adanya, seutuhnya, kecuali kesuburan kamu.” Kontradiktif, kan?

Dipisahkannya persetubuhan antara suami-istri dengan kemungkinan hadirnya kehidupan baru adalah bukti bahwa hubungan seks tersebut hanyalah untuk memberikan kepuasan atau kesenangan. Kepuasan atau kesenangan yang timbul dari hubungan seks, tidaklah salah. Akan tetapi, yang tidak direstui oleh ajaran Gereja adalah penggunaan hubungan seks hanya untuk memberikan kepuasan semata kepada diri sendiri.

Mitos: Saya boleh menutup mata tentang Gereja tentang kontrasepsi karena saya masih terlalu muda.

Fakta: Esensi ajaran Gereja tentang kontrasepsi pada intinya adalah ajaran mengenai kasih dan kehidupan berkeluarga. Maka dari itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memahaminya.

Kasih antara suami istri dalam perkawinan memiliki lima ciri: manusiawi (fisik dan spiritual), total, setia dan eksklusif/monogami, dan berbuah/ ‘fruitful‘ (Humanae Vitae 9, Paus Paulus VI). Apakah ‘menghasilkan buah’ ini berarti keluarga Katolik harus memiliki anak sebanyak-banyaknya? Tentu saja tidak, tetapi Gereja mengajarkan kita mengenai misi perkawinan:

“Menurut hakikatnya, perkawinan dan cinta kasih suami-istri dimaksudkan untuk kelahiran dan pendidikan anak. Sungguh, anak merupakan karunia perkawinan yang paling luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri.” (Gaudium et Spes 50, Paus Paulus VI).

Sangatlah penting bagi setiap pasangan untuk mempertimbangkan situasi spiritual, sosial, dan finansial mereka secara jujur dan kita juga tidak boleh melupakan peran rahmat Tuhan dalam kehidupan keluarga Katolik. Masalahnya, kebanyakan orang saat ini sangat materialistis. Jangankan berbicara mengenai kemurahan hati untuk memiliki keluarga besar, saat pertanyaan “Kapan mau menikah?” muncul, banyak orang muda yang mulai berpikir untuk menunggu punya mobil dulu, punya rumah yang besar dulu, atau mau punya posisi yang tinggi dulu di perusahaan. Kita seakan lupa bahwa Tuhan memberikan rahmat khusus melalui Sakramen Perkawinan. Perlu diingat bahwa Sakramen Perkawinan bukanlah sekedar pesta semalam, melainkan perayaan di mana Tuhan sungguh hadir melalui pribadi pasangan. Sakramen ini merupakan suatu panggilan dari Tuhan dan jalan untuk menjadi suci.

Sekali lagi, kesediaan untuk bekerja sama dengan Allah Bapa adalah kunci utama ajaran Gereja. Penggunaan alat kontrasepsi adalah suatu bentuk terhadap penolakan kerja sama ini. Pada dasarnya, setiap orang dipanggil untuk menjalani misi khusus di dunia: baik melalui hidup berkeluarga maupun hidup selibat sebagai biarawan/biarawati atau kaum awam. Orang-orang yang dipanggil untuk hidup berkeluarga, juga memiliki misi khusus untuk menjadi saksi Kristus melalui kehidupan berkeluarga mereka. Oleh sebab itu, pasangan suami-istri selayaknya terbuka terhadap kehidupan baru melalui hubungan intim mereka karena inilah instrumen yang Tuhan pakai untuk melaksanakan kehendak-Nya.

. Gereja kita, melalui ajarannya tentang Kasih, sangat memberi kebebasan karena standar ‘kasih’ kita bukannya cinta film Hollywood, tapi cinta Yesus di kayu salib. Pasangan suami-istri tidak memakai alat kontrasepsi karena mereka memberikan diri mereka seutuhnya, seratus persen, seperti halnya Tuhan Yesus yang memberikan diri-Nya untuk kita. Pengetahuan tentang ‘kasih’ sebagai pemberian diri seutuhnya, terutama melalui Sakramen Pernikahan, sangat mempengaruhi tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari sebagai kaum muda. Misalnya, karena pengetahuan dan pengertian ini, kita tidak akan memilih untuk menonton adegan yang menjual sensualitas dan adegan ranjang karena hal ini menanamkan ide bahwa hubungan intim hanyalah untuk kepuasan semata. Dengan kesadaran ini, sebagai pacar, kita tidak akan mencari-cari situasi yang membahayakan kesucimurnian (seperti ketergantungan terhadap sentuhan fisik). Hal ini berakar dari kesadaran bahwa masa berpacaran adalah masa persiapan untuk proses pemberian diri seutuhnya.

Bagaimana kalau saya masih tidak yakin dengan ajaran Gereja yang satu ini? Sepertinya orang-orang di sekitar saya tidak peduli kok.

Pertama: riset sudah menunjukkan bahwa akurasi KB alami sangat efektif untuk menunda kehamilan (Smoley dan Robinson, 2012). Selain itu, KB alami dapat digunakan tidak hanya untuk menunda kehamilan, tetapi juga menambah peluang untuk kehamilan. Perlu diketahui bahwa KB alami bukanlah sekedar metode ‘menghitung hari’, melainkan merupakan metode sistematis untuk membaca tanda-tanda kesuburan seperti observasi suhu tubuh dan lendir serviks. Hal ini akan dibahas dengan lebih detail saat pasangan mengikuti kursus persiapan perkawinan. Dengan demikian, pasangan yang ingin punya anak dapat memilih untuk berhubungan selama masa subur dan pasangan yang perlu menunda memiliki anak dapat memilih untuk berhubungan di luar masa subur. Kedua: kita tidak dapat memahami ajaran Gereja tentang kontrasepsi sepenuhnya kalau kita tidak mau belajar untuk memahami ajaran Gereja tentang kasih dan makna tubuh kita. Hal ini harus ditekankan karena KB alami adalah suatu ‘jalan’, bukan ‘tujuan’. Misalnya, pasangan yang sebenarnya mampu memiliki keluarga yang lebih besar, tetapi memutuskan hanya untuk memiliki satu anak karena mau hidup berlimpah, biarpun menggunakan metode alami, tujuan akhirnya tetap tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Sebaliknya, pasangan yang terbuka terhadap kehidupan, tetapi karena satu dan lain hal tidak mampu mengandung anak, kekudusan perkawinannya tidak berkurang setitik pun. Ketiga: inilah kelebihan kita sebagai orang muda. Kita mampu membuat perubahan. Contohnya, sebagai perempuan, percakapan mengenai pacar, gebetan, atau “Mau punya anak berapa?” adalah topik pembicaraan menarik, baik di antara teman-teman Katolik maupun non-Katolik. Sebuah celetukan sederhana seperti, “Ah, kalau situasi memungkinkan, saya mau punya keluarga besar,” atau “Saya sih kalau sudah menikah nanti, tidak mau ya pakai pil KB atau segala bentuk KB buatan,” dapat mempengaruhi teman kita. Mereka pasti bertanya “Mengapa?” Mengapa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan arus saat ini? Dengan pengetahuan tentang ajaran Gereja dan dengan kehidupan rohani yang diteguhkan dengan doa dan sakramen, kita selalu dapat menciptakan kesempatan dan memiliki keberanian untuk mempengaruhi teman kita. Selain itu, sebagai kaum muda, kita mampu membuat keputusan untuk keluarga kita di masa yang akan datang. Jadi, sebagai kaum muda, kita tidak boleh berhenti membaca dan menghadiri seminar mengenai ajaran Gereja. Kita memiliki tanggung jawab dalam hidup kita dan hidup orang lain melalui pilihan-pilihan yang kita buat.

“Janganlah risau bilamana engkau mengutarakan pendapat yang benar, meskipun keburukan hati mereka membuat mereka tersinggung. Karena perasaan mereka itu adalah suatu kemunafikan.” (Jalan 349, St. Josemaria Escriva).

Penulis saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Singapore University of Technology and Design (SUTD). Sejak tahun 2008, penulis menghadiri kelas-kelas mengenai Katekismus Gereja Katolik dan saat ini aktif sebagai anggota Legio Maria. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ajaran Gereja mengenai topik ini, pembaca dapat mencari informasi mengenai ‘Teologi Tubuh’ (Theology of the Body) yang ditulis Paus Yohanes Paulus II dan membaca buku Life-Giving Love (Kimberly Hahn), Marriage: A path to Sanctity (Javier Abad dan E. Fenoy), dan Catholic for a Reason IV: Mempertanggungjawabkan Iman IV Kitab Suci dan Misteri Perkawinan serta Kehidupan Keluarga (editor: Scott Hahn & Regis J. Flaherty, dapat dibeli melalui www.diomamedia.com ). Anda juga dapat membaca cerita-cerita menarik dari perempuan yang memakai KB alami dalam seri: “Women speak on Natural Family Planning” di blog yang ditulis Haley dalam www.carrotsformichaelmas.com.