Kembalinya saya ke blog ini

Saya membuat blog ini di India karena ketika saya magang di sana, saya nggak bisa keluar malam-malam karena situasi di sana tidak aman. Kembalinya saya ke Singapur, duhh sibuk banget, dan jujur saya merasa lebih mudah menulis dalam bahasa Inggris (biarpun dengan tata bahasa yang berantakan) daripada menulis dalam bahasa Indonesia. Soalnya sekarang buku-buku yang saya baca ya buku bahasa Inggris, kerja juga pakai bahasa Inggris, jadi agak susah menerjemahkan istilah-istilah tertentu ke bahasa Indonesia.

Walaupun demikian, saya masih ingin menulis dalam bahasa Indonesia karena sesuai judul blog saya, “menulis adalah suatu bentuk tanggung jawab”. Tuhan sudah memberi saya kesempatan untuk belajar dan bekerja di sini, dan memiliki akses ke sumber-sumber tertentu, terutama buku dan workshop yang tidak dapat diakses oleh kebanyakan orang. Impian saya adalah menjadikan blog ini sebagai salah satu wahana pendidikan. Saya mungkin bukanlah seorang penerjemah profesional, tata bahasa Indonesia pun sudah hancur (duh maap!), tetapi ada beberapa area yang saya harap akan memotivasi saya untuk menulis lebih sering di blog ini. Topik-topik ini agak luas, sampai moga-moga kelak saya menemukan hal apa yang saya mau kupas lebih dalam lagi.

  • Pendidikan untuk anak kebutuhan khusus

Mengapa? Karena selama saya kuliah, saya cuma familiar dengan Applied Behavioral Analysis (ABA), padahal ada banyak metode lain yang mungkin lebih baik.

  • Iman Katolik, pernikahan, dan KB (supra)alamiah

Mengapa? Karena saya cuma mendengar betapa buruknya dampak KB buatan (pil lah, kondom lah) dan tidak etisnya penggunaan KB buatan setelah saya kuliah di Singapur, sementara di Indo saya melihat bahwa penggunaan pil KB itu ‘normal’ banget.

  • Mitos vs. fakta di media (duh sering banget kan lihat newsfeed facebook yang nggak jelas kebenarannya)

Mengapa? Hmm…Sudah tersirat kan betapa capeknya saya baca hoax?

  • Daftar buku/ website yang terpercaya mengenai berbagai topik

Terutama tentang bioethics. Saya punya teman yang kehilangan bayinya karena ecclampsia. Dokter yang menanganinya merekomendasikan aborsi padahal ada beberapa solusi lain.

  • dan tentu saja hal-hal fun seperti travel =P

Semoga resolusi ini bisa tercapai. Hahaha. Amiiiin!!

 

 

 

Cakrawala

Setiap kali saya pulang ke Indonesia, saya selalu senyum-senyum melihat matahari terbit. Kenapa? Karena di Singapura ini di mana-mana rumah susun (HDB), apartemen, dan gedung pencakar langit. Walaupun saya bangun pagi, jarang sekali saya bisa melihat langit yang ‘bersih’ dengan matahari terbit dan awan tanpa gedung-gedung tinggi.

Senin lalu kantor saya pindah ke Expo, yang notabene hanya 5 menit dari Changi Airport kalau naik MRT. Ini pertama kalinya saya kantoran di ujung timur Singapura. Di tengah-tengah komplain sana-sini karena stall makanan yang buka baru 2 stall, ruang kerja kami belum bisa dikunci, dan lain-lain, saya sejujurnya menikmati pemandangan di kantor baru ini. Jaraknya yang dekat dengan bandara menyebabkan dibatasinya ketinggian gedung-gedung di sekitar Expo. Gedung saya sendiri maksimal tujuh lantai. Setiap hari saya bisa melihat langit lepas dan pesawat mendarat dan lepas landas setiap beberapa menit. Hahaha.

Setiap orang melihat langit biru setiap hari. Siapa sangka pengalaman melihat cakrawala yang luas dengan warna yang berubah seiring matahari terbit dan terbenam, membuat saya tersenyum lebih banyak dan mensyukuri kantor baru ini. Hahaha.

Menunggu dengan gembira

Saya rasa banyak orang yang sudah tidak terlalu peduli dengan makna Adven. Mall-mall memutar lagu Natal sejak awal November dan paling-paling kita cuma mendengar lagu Adven seminggu sekali

Walaupun susah dilakukan, Adven merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki diri masing-masing. Untuk menambah persiapan Natal kali ini, saya mencoba membuat dekorasi Adven (yang sayangnya gagal, duh!). Maunya sih membuat 25 kantong kertas sebagai Adven kalender seperti ini. Namun, saya terlalu sibuk (atau terlalu banyak membuang waktu melakukan hal-hal lain) sehingga akhirnya saya cuma membuat tujuh kantong dan tiap kantong berisi beberapa kertas kecil berisi resolusi. Harusnya tiap kantong berisi 1 hal saja.

WP_20141208_001

Dekorasi ini benar-benar sederhana. Namun, saya cukup senang memandangi kantong-kantong ini. Apalagi kalau saya buka jendela malam-malam, kantong-kantong ini bergoyang-goyang tertiup angin sampai saya takut jepitannya lepas. Hehehe. Dekorasi ini juga membantu saya untuk lebih optimis dan menunggu Natal dengan lebih gembira karena setiap hari saya ditantang untuk melakukan hal baik yang biasanya tidak saya lakukan atau belum saya lakukan dengan konsisten. Atau mungkin hal tersebut adalah hal yang spesifik untuk masa Natal, tetapi cukup memerlukan effort lebih (misalnya menulis kartu Natal).

Sudahkah kamu memikirkan resolusi Adven? =)

The Sisterhood of the traveling pants: vol. 3 Estafet Puisi

Halooo…bacanya mulai dari punyanya April, terus Nic, nah aku cuma ngelanjutin bait ke-3 dan ke-4. hehehe

Aku tau mengapa langit malam sering menangis
Karena ia iri pada langit biru
Yang selalu bisa memeluk matahari
Yang mendekap erat, memberi hangatΒ 

Aku tau mengapa angin meniup jatuh dedaunan
Ia iri pada pohon rindang itu
Kokohnya memberi perlindungan
Andai ia bisa sekejap bersandar di bawahnya

Tak apa, aku cukup ditemani gema

tak apa, aku cukup merengkuh hangat pasir yang terinjak

tak apa, aku cukup bersandar pada tanah yang telanjang

Aku tau, aku paham, aku terima sebagai fakta

bahwa aku hanya bintang yang dilupakan kala siang

yang kalah terang dengan gemerlap menara kokoh di kala malam

Aku tau, aku paham, aku terima sebagai fakta

bahwa rintihanku hanya mampu ditemani pantulannya di gua

bahwa jatuhku tiada yang mampu menyangga
Β 
Silakan baca lanjutannya di Dennyz ya!! πŸ™‚
Β 
Gambar

the sisterhood of the traveling pants vol.2 : resolusi tahun baru yang paling berhasil tercapai sejauh ini

Hai!

Maap baru nulis lagi.

Sebulan lagi udah ganti tahun!! Aku ada 10 poin resolusi, dan dari sepuluh ini, resolusi paling berhasil adalah………..

kayaknya poin 7:

I promise to avoid idleness and use the time to pay more attention to people around me (family, friends, housemates, colleagues) and make home/ working environment more pleasing to others.

Rumahku masih berantakan sih, hahaha, tapi tahun ini aku lebih komit untuk ketemu temen secara teratur (terutama teman-teman lama), cuma buat saling kasih dukungan ke temanku atau lari bareng πŸ™‚ Terus karena sejak pertengahan tahun aku terlibat di Girls’ Club (kegiatan anak SD setiap Sabtu: masak-masak, arts and craft, katekisme, dan doa), jadi udah nggak ada lagi tuh guling2an di kamar seharian. Hahaha

I promise to arrive at Mass at least 5 minutes early and write insight of my daily prayer in my journal.

Poin yang ini kadang sukses kadang ndak 😦 50-50 kayaknya..awalnya sempat parah pas awal tahun, terus makin ke akhir tahun lebih ke tergantung energi dan kesibukan juga. 😦 Tapi nggak separah dulu kok, cuma bisa diperbaiki jauhhhhhhhhhhh lebih baik.

I promise to only allow myself eat junk food once a month and exercise weekly.

Tetottttttttttttt.. kayaknya aku makan Macdonalds dan sebangsanya sebulan dua kali. Olah raga nggak nyampe tiap minggu sih, tapi sebulan sekali ada lah (ini udah kemajuan!!!)

Hahahaha.

Haduhhh ini kok kayaknya resolusi gagal semua. Besok mulai lagi dari nol. =) semangat!!!!

Silakan baca post Nyz, Nic, April ya!! πŸ™‚

Vol.3 : Natal paling berkesan? πŸ™‚

Image

Kapan jadi pegawai tetap?

Mama: Nda, kan kamu sudah setahun kerja dengan bos ini. Kapan jadi pegawai tetap?

***

Sebagai asisten peneliti, tidak ada yang namanya status pegawai tetap. Gajiku berasal dari dana riset bosku yang merupakan seorang asisten profesor. Makanya, aku digaji berdasarkan kontrak. Biasanya kontrak asisten peneliti itu hanya satu tahun, tetapi bisa diperpanjang juga, tergantung dananya.

Suka duka menjadi asisten peneliti?

Memang kesannya segala sesuatu jadi tidak pasti. Serunya, terasa seperti kuliah karena masih harus membaca artikel-artikel ilmiah terbaru. Pergi konferensi juga merupakan suatu pengalaman yang tak terlupakan. Selain itu, tergantung bidang riset kita apa, kita tidak hanya berkutat di belakang komputer. Karena penelitian bosku berhubungan dengan anak-anak TK, aku jadi sering bertemu dengan kepala TK di sana-sini. πŸ™‚ Setiap hari terasa berbeda πŸ™‚

Pembicaraan Ibu dan Anak

Karena sekarang statusku adalah seorang karyawan dengan satu pacar (ya iya lah masak lebih dari satu), topik pembicaraanku dan mamaku sekarang adalah sekitar rumah, kehidupan keluarga, dan uang!

1. Tips membersihkan rumah

Sebagai pengganti mbak selama libur lebaran, ternyata aku kena omelnya sama seperti mbak >.< Gara-garanya, aku tidak memperhatikan kain lap apa yang biasa dipakai mama untuk membersihkan meja dan kain lap apa yang biasa digunakan untuk membersihkan alat-alat lain.

Selama ini aku juga tidak membedakan ember yang digunakan untuk mencuci kain lap, baju, dan keset! >.< Oke oke, saatnya mulai lagi dari awal.

2. Tips dunia kerja

Mama menyuruhku untuk bersabar karena tidak ada orang yang langsung punya posisi tinggi saat mulai bekerja. Menurutku ini tips sepele, tetapi ternyata banyak teman yang berhenti kerja sesudah baru 6 bulan bekerja karena merasa ‘mandek’.

3. Kehidupan keluarga

Mulai dari pesan untuk selalu bertanya kepada empunya rumah kalau kelak tinggal di rumah mertua sampai pesan untuk merawat pacar dengan baik karena sepertinya pacar ini sangat disayang mamanya.

Ya begitulah pembicaraan ibu dan anak berusia (hampir) 23 tahun.

Image

Selamat Datang, Agustus

Nge-blog dulu ya sebelum bobo. Hahaha.

Sepertianya saya sudah kehabisan kata-kata yang intinya menyatakan bahwa waktu berlari dengan sangat cepat! Rasanya baru kemarin saya khawatir akan status pekerjaan saya dan sibuk mencari pekerjaan di sana-sini, tiba-tiba hari ini sudah bulan kedua sejak kontrak saya diperbaharui.

Saya sangat bersyukur karena bos saya mau memperpanjang kontrak saya. Menurut saya, tahun kedua bekerja itu benar-benar lebih seru karena jauhhhh lebih sibuk dan tanggung jawab pun lebih besar (saya sudah tidak bisa bergantung kepada teman kerja saya yang lebih senior). Kadang kepala saya pusing karena begitu banyak yang harus saya kerjakan, tetapi pekerjaan saya benar-benar sebuah tantangan yang menarik. Sudah sebulan ini saya sibuk menulis transcription observasi anak-anak di TK. Proses ini memakan waktu yang sangat lama. Satu sesi selama 30 menit membutuhkan waktu sekitar 4-6 jam untuk diketik. Sejauh ini saya cukup senang karena dapat mendengarkan percakapan anak-anak yang mulai dari membicarakan putri vampir lah, main cikupa lah (ternyata permainan ini ada di mana-mana!), sampai bertengkar dan ada anak yang buru-buru minta maaf karena kalau tidak minta maaf, temannya akan lapor ke sang guru.

Saya juga menyaksikan anak-anak yang pendiam sampai yang tukang monopoli kalau sedang mengerjakan kerajinan tangan. Wah, beneran deh, kalau anak-anak tidak dilatih dari kecil, bakat egoisnya sudah kelihatan sejak di TK B.

Agustus adalah bulan yang sibuk. Pertama-tama, ini kesempatan emas untuk merekrut orang baru di Legio Maria. Kedua, ini kesempatan pulang ke Indonesia, yang berarti saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sebelum pulang minggu depan. Ketiga, Legio Maria akan mengadakan retret di akhir bulan.

Agustus adalah bulan bersejarah. Pertama, tentu saja ada 17 Agustus-an (yang terakhir kali saya rayakan pas tahun kedua di universitas!). Kedua, ada ulang tahun saya. Errr….. Tambah tuaaaaaaaaaaa!!

Ulang tahun kali ini, saya punya banyaaaaaaaaaaak sekali permintaan, tapi permintaan-permintaan ini tidak bisa dibungkus dalam kado, tidak bisa diberi pita, tidak bisa diganti dengan kupon. T.T

Jadi, tolong doakan saja ya πŸ™‚

Mitos tentang tinggal di luar negeri

Kebanyakan orang berpikir bahwa tinggal di luar negeri itu enak, gajinya tinggi, lalu jadi orang kaya, dapat status PR (permanent resident), dan tinggal di luar negeri enak selama-lamanya amiiin. Makanya kali ini saya mau berbagi tentang kesulitan tinggal di luar negeri.

1. Sama seperti di Jakarta, mencari kerja itu sulit.

Perusahaan-perusahaan di sini tentu saja mengutamakan orang lokal atau PR (padahal saya belum jadi PR)

2. Sewa rumah mahal dan selalu harus berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain

1/5 gaji anda habis untuk biaya sewa kamar (itu sekamar berdua lho). Kontrak rumah rata-rata hanya 1-2 tahun.

3. Harus banyak hemat πŸ™‚

Masalah kaya/tidak itu tergantung orangnya. Kalau mau memiliki gaya hidup yang sama dengan di Jakarta, kita harus bayar lebih mahal. Harus pintar-pintar simpan uang deh. Tidak semua orang memiliki beasiswa / dibaya 100% oleh orang tua. Saya pinjam uang dari bank selain dibantu oleh orang tua. Jadi, masih ada utang yang harus dicicil maksimum 20 tahun. Setiap bulan, 1/5 gaji saya habis untuk bayar utang juga πŸ™‚

Jadi intinya, di mana pun kita menetap, selalu ada masalah. Tentu saja ada hal yang menyenangkan juga sih πŸ™‚

Bayi Tabung – etiskah?

Ketika saya pulang ke Indonesia, majalah perempuan yang biasa mama saya baca memuat artikel tentang bayi tabung. Mama saya dengan polosnya juga merekomendasi orang-orang untuk ke dokter tertentu untuk melakukan bayi tabung. Jujur, agak sulit berbicara dengan mama saya untuk menjelaskan bahwa metode bayi tabung itu tidak etis dan tidak bermoral. Kata mama saya, “Wong kita cuma mau bantu pasangan yang mau punya anak.”

Apa sih yang salah dengan metode bayi tabung?

Pertama-tama, perlu kita ketahui bahwa tidak seperti pendapat orang awam bahwa hubungan seks itu cuma untuk bersenang-senang, hubungan seks antara suami dan istri adalah sesuatu yang sakral. Ini adalah satu-satunya saat di mana suami dan istri saling memberikan diri mereka secara 100% dan buahnya adalah: anak.

Ketika anak ‘diciptakan’ melalui bayi tabung, proses sakral ini hilang. Lenyap! Ditambah lagi, proses bayi tabung biasa menghasilkan lebih dari satu embrio (sel telur yang sudah dibuahi sperma). Biasanya, embrio yang ekstra ini dibekukan!! Padahal ini juga janin lho! Untuk melakukan bayi tabung ini, si suami juga harus melakukan masturbasi untuk mengeluarkan spermanya. Jadi prosesnya secara keseluruhan bukan lagi bentuk 100% pemberian diri suami dan istri.

Apa salahnya sih? Mereka cuma mau punya anak.

Setiap orang yang memasuki pernikahan itu punya suatu misi. Sama halnya dengan orang yang jadi romo atau suster, mereka juga punya misi. Ya betul mereka harus terbuka terhadap kehidupan baru, tapi jika Tuhan berkehendak bahwa mereka tidak punya anak dari hubungan mereka sendiri, mungkin mereka punya misi lain. (Entah itu untuk mengadopsi anak orang lain, atau untuk memegang teguh janji pernikahan mereka biarpun tanpa anak). Ditambah lagi, dengan bertambahnya pengetahuan, sebenarnya banyak cara untuk dapat membantu proses pembuahan tanpa harus menghilangan proses sakral antara suami-istri ini πŸ™‚